Sudah
lazim orang menganggap Amerika satu superpower, sekurang-kurangnya
superpower militer. Akan tetapi Emmanuel Todd, seorang pakar ilmu
pengetahuan Perancis berpendapat lain. Bukunya. yang berjudul Apres
l’empire. Essai sur la decomposition du systeme Americain (Editions
Gallimard, Paris 2002) telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Dalam
versinya yang bahasa Jerman, yaitu Weltmacht USA, ein Nachruf yang telah
diterbitkan Piper Verlag GmbH, Munchen pada tahun 2003, Emmanuel Todd
menulis bahwa Amerika bukan superpower , baik dalam ekonomi maupun
militer.. Tentang ekonomi cukup disampaikan di sini bahwa Todd menilai
besarnya ketergantungan Amerika kepada bangsa-bangsa lain dalam berbagai
aspek ekonomi sebagai indikasi bahwa Amerika bukan satu superpower
ekonomi yang mengungguli ekonomi dunia.
Untuk membahas pandangan Todd bahwa Amerika bukan superpower militer
perlu kita telaah pokok-pokok argumentasi Todd. Ia mengatakan bahwa
bangsa Amerika mempunyai kelemahan struktural dalam bidang militer.
Dalam sejarahnya bangsa Amerika tidak pernah beradu kekuatan dengan
musuh yang sama kekuatannya. Dimulai dengan perangnya yang asimmetris
dengan suku-suku Indian. Juga dalam Perang Dunia II AS berhadapan dengan
Jerman yang tinggal runtuh karena pukulan berat oleh tentara Uni
Soviet. Setelah melakukan pendaratan di Normandie Amerika melakukan
operasi militer yang tidak seimbang dengan keunggulannya dalam material
dan jumlah manusia. Todd mengemukakan pendapat Liddell Hart, pakar
strategi dan sejarah militer Inggeris, yang mengatakan betapa lambat dan
birokratis cara bergeraknya tentara AS di darat. Keunggulan Amerika di
laut dan udara memang sangat besar sebagai hasil kekuatan industrinya.
Setelah memenangkan pertempuran laut Midway, perang AS lawan Jepang
mirip perangnya dengan Indian. Keunggulan material dan logistik AS
terlalu besar dan Jepang tidak mampu mengimbanginya. Akan tetapi lain
halnya operasinya di darat. Setelah Perang Dunia II tampak jelas bahwa
kekuatan darat Amerika kurang mampu untuk memenangkan perang. Di Korea
keberhasilan hanya separoh, sedangkan di Vietnam gagal sama sekali.
Padahal AS menghadapi negara yang kecil dan jauh lebih rendah kemampuan
industrinya.
Dalam tahun-tahun akhir ini AS mengembangkan konsep perang yang tidak
atau seminimal mungkin mengakibatkan korban mati bagi orang Amerika.
Cara berpikir demikian berakibat bahwa kemampuan operasi darat makin
kurang dapat diandalkan. Sebab dalam operasi darat sukar untuk
menghindari perjumpaan langsung dengan kekuatan lawan. Konsep AS
tersebut didasarkan keunggulan teknologinya yang hendak dimanfaatkan
semaksimal mungkin. Konsep itu. mengutamakan serangan udara yang
bertujuan menghancurkan perlawanan musuh melalui pemboman udara dan
pukulan dengan peluru kendali. Teknologi precision guided munition (PGM)
memungkinkan penembakan peluru kendali dengan perkenaan tepat pada
jarak jauh. Di samping itu dikembangkan smart bombs atau bom yang
perkenaannya tepat. Sedangkan untuk penentuan sasaran digunakan remote
sensing atau peninjauan saksama ke seluruh wilayah dengan memanfaatkan
satelit udara. Dilengkapi dengan aksi intelijen manusia yang dilengkapi
sarana komunikasi untuk memungkinkan laporan instant dan dilanjutkan
oleh serangan udara seketika. Dengan cara demikian diperkirakan bahwa
musuh dapat dihancurkan dalam waktu tidak lama oleh serangan udara tanpa
penggunaan kekuatan darat. Setelah musuh dihancurkan baru tentara darat
bergerak ke daerah musuh untuk mengkonsolidasi kemenangan.. Cara
demikian diharapkan akan mengakibatkan korban minimal pada tentara AS..
Akan tetapi konsep ini akan sukar dilaksanakan apabila musuh mempunyai
kemampuan pertahanan udara yang efektif, kata Todd. Oleh sebab itu AS
hanya akan berperang kalau menghadapi pihak lain yang lemah dan terbatas
kekuatan militernya, terutama pertahanan udaranya.
Untuk menunjukkan kepada dunia luar bahwa AS masih kuat dan kuasa
diadakan penempatan pasukan AS dalam jumlah besar di luar negeri, antara
lain di Jerman 60.053, Jepang 41.257, Korea Selatan 35.663, Italia
11.677, Inggeris 11.379, di Spanyol 3.575. Selain itu di daerah Balkan
ada 13.774 dan di Timur Tengah 9.956 orang. Namun untuk mengadakan
operasi militer AS tidak mempunyai kemampuan kongkrit yang sesuai dengan
potensinya. Memang kapal-kapal induk AS (aircraft carrier) mampu
bergerak leluasa di lautan dunia. Hal ini merupakan projection of power
yang penting bagi supremasi politik. Akan tetapi karena kurang kesediaan
mengoperasikan kekuatan darat, maka AS kurang sanggup mengadakan
konfrontasi militer terhadap lawan yang kekuatan militernya cukup besar.
dan hanya bertindak terhadap pihak lain yang diyakini lemah. .
Sikap AS yang keras terhadap Islam oleh Todd dijelaskan sebagai berikut :
adanya pertentangan ideologi setelah komunisme kalah;
untuk menguasai minyak Timur Tengah yang dihuni penduduk mayoritas Islam;
akan tetapi terutama karena dunia Islam secara militer lemah;
dan sebagai demonstrasi kekuasaan strategi AS secara murah dan relatif aman.
Demikianlah pokok-pokok argumentasi Todd bahwa AS bukan superpower militer.
Adalah benar bahwa setelah Perang Dunia II selalu negara kecil atau yang
belum berkembang yang menjadi sasaran perang AS. Tidak pernah langsung
dengan Uni Soviet. Mulai dengan Korea Utara, kemudian Vietnam yang semua
kurang kongkrit hasilnya. Kemudian serangan ke Panama untuk menangkap
presidennya. Perang Teluk I hanya dibatasi pada pembebasan Kuwait dan
tidak dilanjutkan dengan menaklukkan Irak. Serangan ke Afghanistan
sesuai konsep baru karena lawan tidak ada kemampuan pertahanan udara.
Kekuatan darat AS baru digerakkan setelah pasukan Afghanistan yang
melawan Taliban, yaitu pasukan Northern Alliance, lebih dulu bergerak
masuk. Toh hingga kini AS belum berhasil melikuidasi Osama bin Laden dan
Al Qaeda, padahal itu yang menjadi tujuan serangan ke Afghanistan.
Serangan ke Irak baru dilakukan setelah Irak setengah melucuti diri
sendiri, yaitu menuruti kehendak PBB untuk menghancurkan semua senjata
besar. Sekalipun nampaknya Irak dapat dikalahkan dengan melakukan konsep
perang baru, namun hingga sekarang AS belum dapat menguasai negara itu.
AS kewalahan menghadapi serangan gerilya pihak Irak sehingga minta
bantuan tentara negara-negara lain. Panglima Tentara AS di Irak mengakui
bahwa setiap hari rata-rata ada 15 kali gangguan atau serangan dari
pihak Irak yang membahayakan anggotanya.
Kekurangmampuan AS menghadapi negara yang agak kuat militernya tampak
dalam masalah Korea Utara dewasa ini. AS menyerang Irak dengan alasan
negara itu menyembunyikan senjata destruksi missal, tetapi tuduhan itu
hingga sekarang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Sebaliknya Korea
Utara secara terang-terangan mengatakan bahwa ia memiliki senjata
nuklir.. Kalau AS benar-benar konsekuen sikapnya ia harus juga menyerang
Korea Utara yang sejak semula ia namakan Poros Kejahatan bersama Irak
dan Iran. Akan tetapi Korea Utara secara militer tidak dapat dianggap
lemah. Korea Utara tidak mau melucuti senjata nuklirnya sebelum AS
menyatakan tidak akan menyerangnya. Ia mengancam, kalau sampai AS
menyerang, Korea Utara akan mengadakan pembalasan setimpal. Pasukan AS
di Korea Selatan dan Jepang dapat menjadi sasaran untuk serangan balas
Korea Utara. Sikap Korea Utara itu mungkin semacam gertak sambal, tetapi
nyatanya hingga kini AS tidak menyerangnya. Berbeda sekali dengan sikap
AS terhadap Irak.
Dengan gambaran itu memang Amerika tidak semampu atau sekuat kita
perkirakan . Nampaknya penilaian Emmanuel Todd benar bahwa AS bukan satu
superpower militer . Namun karena sikap AS yang hegemonistik, maka
kekuatannya menjadi ancaman bagi negara-negara yang kurang kuat
militernya. Hal ini mendorong negara kecil mempersenjatai diri untuk
tidak dinilai lemah, bahkan kalau perlu dengan senjata nuklir. Itulah
yang sekarang dilakukan Iran untuk mencegah serangan ASKekuatan militer
Indonesia adalah salahsatu yang terbesar dan terkuat di dunia. Saat itu,
bahkan kekuatan Belanda sudah tidak sebanding dengan Indonesia, dan
Amerika sangat khawatir dengan perkembangan kekuatan militer kita yang
didukung besar-besaran oleh teknologi terbaru Uni Sovyet.
1960, Belanda masih bercokol di Papua. Melihat kekuatan Republik
Indonesia yang makin hebat, Belanda yang didukung Barat merancang
muslihat untuk membentuk negara boneka yang seakan-akan merdeka, tapi
masih dibawah kendali Belanda.
Presiden Sukarno segera mengambil tindakan ekstrim, tujuannya, merebut
kembali Papua. Sukarno segera mengeluarkan maklumat “Trikora” di
Yogyakarta, dan isinya adalah:
1. Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda.
2. Kibarkan Sang Saka Merah Putih di seluruh Irian Barat
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.
Berkat kedekatan Indonesia dengan Sovyet, maka Indonesia mendapatkan
bantuan besar-besaran kekuatan armada laut dan udara militer termaju di
dunia dengan nilai raksasa, US$ 2.5 milyar. Saat ini, kekuatan militer
Indonesia menjadi yang terkuat di seluruh belahan bumi selatan.
Kekuatan utama Indonesia di saat Trikora itu adalah salahsatu kapal
perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet dari kelas Sverdlov,
dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi. Ini adalah KRI Irian, dengan
bobot raksasa 16.640 ton dengan awak sebesar 1270 orang termasuk 60
perwira. Sovyet, tidak pernah sekalipun memberikan kapal sekuat ini pada
bangsa lain manapun, kecuali Indonesia.(kapal-kapal terbaru Indonesia
sekarang dari kelas Sigma hanya berbobot 1600 ton).
Angkatan udara Indonesia juga menjadi salahsatu armada udara paling
mematikan di dunia, yang terdiri dari lebih dari 100 pesawat tercanggih
saat itu. Armada ini terdiri dari :
1. 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed.
2. 30 pesawat MiG-15.
3. 49 pesawat tempur high-subsonic MiG-17.
4. 10 pesawat supersonic MiG-19.
Pesawat MiG-21 Fishbed adalah salahsatu pesawat supersonic tercanggih di
dunia, yang telah mampu terbang dengan kecepatan mencapai Mach 2.
Pesawat ini bahkan lebih hebat dari pesawat tercanggih Amerika saat itu,
pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger. Sementara Belanda
masih mengandalkan pesawat-pesawat peninggalan Perang Dunia II seperti
P-51 Mustang.
Sebagai catatan, kedahsyatan pesawat-pesawat MiG-21 dan MiG-17 di Perang
Vietnam sampai mendorong Amerika mendirikan United States Navy Strike
Fighter Tactics Instructor, pusat latihan pilot-pilot terbaik yang
dikenal dengan nama TOP GUN.
Indonesia juga memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16
Tupolev (Badger A dan B). Ini membuat Indonesia menjadi salahsatu dari
hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pembom strategis, yaitu Amerika,
Rusia, dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi,
Surabaya.
Bahkan China dan Australia pun belum memiliki pesawat pembom strategis
seperti ini. Pembom ini juga dilengkapi berbagai peralatan elektronik
canggih dan rudal khusus anti kapal perang AS-1 Kennel, yang daya
ledaknya bisa dengan mudah menenggelamkan kapal-kapal tempur Barat.
Indonesia juga memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan kapal
tempur kelas Corvette, 9 helikopter terbesar di dunia MI-6, 41
helikopter MI-4, berbagai pesawat pengangkut termasuk pesawat pengangkut
berat Antonov An-12B. Total, Indonesia mempunyai 104 unit kapal tempur.
Belum lagi ribuan senapan serbu terbaik saat itu dan masih menjadi
legendaris sampai saat ini, AK-47.
Ini semua membuat Indonesia menjadi salasahtu kekuatan militer laut dan
udara terkuat di dunia. Begitu hebat efeknya, sehingga Amerika di bawah
pimpinan John F. Kennedy memaksa Belanda untuk segera keluar dari Papua,
dan menyatakan dalam forum PBB bahwa peralihan kekuasaan di Papua, dari
Belanda ke Indonesia adalah sesuatu yang bisa diterima
Rabu, 22 Mei 2013
Selasa, 21 Mei 2013
Pantsyr S-1 Dan S-300, Kombinasi Maut Arhanud TNI
HANUD-(IDB) : Melihat perkembangan persenjataan yang
terjadi disekitar RI dan aspek lain yang mengikuti seperti kebutuhan
akan penting kekuatan pertahanan demi menjaga keamanan domestik dan
menjaga keutuhan kedaulatan dari ancaman yang muncul karena perkembangan
situasi yang dinamis.
Menyusul kampanye modernisasi kekuatan militer RI
sesuai pedoman Minimum Essential Forces (MEF), ketiga matra TNI pelan
namun terarah sudah mulai menunjukan adanya perubahan dalam alutsista
masing2 matra.
TNI AU sudah memiliki proyek pembelian T-50 GE, Airbus C295,
SuperTucano, dan lainnya, TNI AD sedang menjajaki pembelian 8 unit AH 64
D Apache Longbow, 114 biji Leopard dan 50 IFV Marder, Rudal StarStreak,
dll kemudian TNI AL masih berkutat dengan program penambahan KCR,
Frigate, Kapal Selam, selain itu uji coba rudal Yakhont juga ikut
menambah daya serang TNI AL.
Pansir beroda..cocok buat medan biasa
|
Mari kesampingkan dulu ribetnya proses
pembelian alutsista canggih untuk TNI, yang baru wacana saja udah banyak
yang protes dan koar2.
Federasi Rusia melalui perusahaan penjualan
senjata Rosoboronexport sudah menawarkan kepada TNI dan Kemhan
alutsista Rudal anti serangan udara jarak pendek Pantsyr-S1 dan jarak
menengah S-300.
Kebutuhan akan modernisasi untuk sistem pertahanan udara
nasional sudah sangat layak untuk segera di lakukan, Pantsyr-S 1
(NATO: SA-22 Greyhound) memiliki kemampuan maut untuk menangkis berbagai
jenis senjata: pesawat tempur, helikopter, roket, peluru kendali,
precision-guided munition hingga UAV. Pantsyr S1 juga bisa
menghancurkan light-armoured ground targets.
Dibanding saingan
sejenisnya, Tunguska M1 (NATO SA-19 Grison), diperkirakan Pantsyr-S1
lebih presisi akurasinya karena menggunakan sistem yang lebih baru
seperti Sistem pertahanan dan persenjataannya dapat diaktifkan dalam
beberapa mode frekuensi serta mampu beroperasi pada multimode adaptive radar-optical control system. Pantsyr-S1 juga didesain untuk menghancurkan target berkemampuan high-precision weapons.
| Pansir penggerak rantai |
Spesifikasi umum Pantsyr-S 1 :
Produsen : KBP Instrument Design Bureau, Tula. Dirakit oleh Ulyanovsk Mechanical Plant, Ulyanovsk, Rusia.
Power : Mengangkut 2 rudal 57E6 Surface
to Air dengan hulu ledak 16 kg, berat 65kg , kecepatan maksimum 1,1 km/
detik, daya jangkau 1 – 12 km.
Mobility : bisa dipasang di truk The Ural-5323 8×8 atau di kendaraan lapis baja berantai (tracked).
User : Rusia, Uni Emirate Arab, Suriah.
Tunguska M1, alternatip lain
|
Tepat rasanya bila TNI mampu memiliki
alutsista pertahanan udara ini, selain mengganti persenjataan hanud yang
udah usang, Pantsyr-S1 makin menambah kepercayaan diri Arhanud TNI
dalam melindungi kedaulatan udara nasional dan backup pendukung
pergerakan kavaleri lapis baja.
Jika TNI berminat memboyong beberapa
Pantsyr-S1 sebaiknya memilih 2 platform sekaligus, menggunakan roda biasa
(truk) untuk digunakan ditempat2 dengan kondisi medan mudah dijangkau
seperti perkotaan dan kendaraan berantai (tracked) untuk dengan medan
yang sulit.
Selanjutnya ke Alutsista yang berlevel
lebih tinggi sehingga bisa memberikan efek deterens ke lawan meski
senjatanya belum digunakan. Sistem pertahanan udara Jarak Jauh/Menengah,
S-300.
Rosoboronexport Rusia juga sudah menawari RI untuk membeli S-300
nya, meski masih belum ada tanda2 persetujuan Kemhan dan TNI untuk
memasukan ke dalam daftar belanja MEF. Pemerintah RI sudah pernah
belajar bahwa untuk mengcover wilayah udara RI tak cukup dengan
upgrading dan penambahan Radar canggih.
S-300/S-400 missiles
|
Apa artinya bila kita memiliki
mata dan telinga yang tajam, namun tidak memiliki tangan dan kaki untuk
bertindak. Jangan sampe Indonesia kecolongan lagi seperti insiden F-18 Amerika yang se enak udelnya ngubek-ubek kedaulatan udara RI diatas pulau bawean.
Melalui TNI AU dengan armada F-16 memang masih diandalkan untuk
menghalau kucing nyasar, tapi sampai saat ini peran Arhanud masih minim,
belum terdengar kabar apapun tentang sepak terjang Arhanud dalam
menghalau ancaman udara asing.
Cukup dimaklumi karena persenjataan
Arhanud sudah sangat perlu di restorasi. Selain ancaman pelanggaran
udara, Arhanud juga diperlukan untuk melindungi pergerakan satuan darat
seperti Tank Leopard 2A6,Heli Serbu MI-35, MLRS, Skuadron UAV dan
artileri medan. Kehadiran Pantsyr-S1 rasanya belum cukup mengcover
semua, adanya sistem rudal jarak menengah/jauh bisa memberikan daya
lindung yang lebih maksimal.
Ada banyak varian S-300 yang ditawarkan
rusia, beberapa kandidat seperti S-300P (NATO : SA-10 Grumble), S-300P/M
(NATO : SA-10d/e), S-300 F (NATO :SA-N-6) atau bila mau bisa sekalian
ambil varian terbarunya, S-400.
S-300 V penggerak rantai untuk medan berat
|
Saking hebatnya kehadiran S-300, Ibukota
Rusia, Moscow menempatkan sekitar 80 baterai S-300 untuk melindungi
penduduk dan aset-aset berharga di Ibukota.
Sedang untuk menjaga
perbatasannya, Rusia mengandalkan pasukan S-400 nya. Terbukti, lengkapnya perlindungan udara Rusia di segala penjuru wilayahnya membuat
ekspansi NATO ke Eropa Timur tak akan mudah.
Untuk memperkuat sistem
pertahanan nasional serta memberikan efek deterens bagi pihak yang ingin
mengganggu kedaulatan NKRI, baterai-baterai S-300 bisa ditempatkan di titik-titik
vital, seperti Ibukota RI, Perbatasan Malaysia di Kalimantan, Perbatasan
Australia di NTT dan Merauke, dan sebagainya menyesuaikan dengan
tingkat ancaman yang ada.
Asal ada kemauan kuat, dukungan dari
semua elemen di tanah air, upaya untuk memiliki sistem pertahanan udara
handal bukan hal mustahil, uang kalau dicari pasti ada tinggal aspek
politicalnya. Jika Iran memiliki hambatan untuk memiliki S-300 karena loby
Israel di Rusia, Indonesia sepertinya juga akan memiliki hambatan dari
Paman SAM demi menjaga keunggulan militer anak angkatnya, Singapura.
Kehadiran Pantsyr S1 dan S-300 dalam jajaran alutsista RI jelas akan
meningkatkan Arm race di kawasan ASEAN dan mengubah strategi
geopolitik negara kawasan. Pihak yang paling getol merespon pastinya
Malaysia dan Singapura, uji coba roket RHAN lapan saja bikin mereka
berkeringat.
Bisakah TNI memiliki sistem pertahanan udara yang capable
dan unggul, kita tunggu saja......!!!!
Selasa, 14 Mei 2013
10 Merek Indonesia yang Dikira Produk Luar Negeri
Kita harusnya bangga terhadap
produk-produk dalam negeri, karena siapa lagi yang akan menghargai
produk-produk dalam negeri kalau bukan bangsa-nya sendiri. Dan pada
kenyataannya, banyak produk Indonesia yang dikira berasal dari merk luar
negeri, dan ternyata asli produk dalam negeri.
Hebatnya lagi, produk-produk dalam
negeri itu bukan hanya laku di dalam negeri saja, melainkan juga sangat
laku di Luar negeri. Dari sana kita dapat melihat dan membandingkan,
bahwa produk dalam negeri sebenarnya tidak kalah baiknya dengan produk
luar negeri. Jadi, kenapa kita harus minder dengan produk bangsa kita
sendiri? Ingin tahu apa saja produk-produk dalam negeri yang dikira
berasal dari merk luar negeri tersebut? Ini dia 10 Produk Indonesia yang
membanggakan itu :
1. Maspion
Iklan Maspion terkenal dengan
ungkapan "Cintailah produk-produk Indonesia". Maspion memang perusahaan
lokal yang terkenal dengan produk elektronik keperluan rumah
tangga. Mulai dari setrika, blender, kipas angin, sampai AC pun ada.
Perusahaan yang berpusat di Surabaya ini telah menghasilkan
produk-produk elektronik sejak tahun 1960-an.
2. Polygon
Di Indonesia, merk yang satu ini
sudah tak asing lagi. Mulai dari sepeda biasa, sepeda mini, sampai
sepeda gunung juga ada. Semua sepeda itu di buat di Sidoarjo, Jawa
timur. Kualitasnya sih, nggak usah ditanya lagi, KEREN-lah pokoknya.
Banyak pengguna biasa sampai komunitas per-sepeda-an memakai produk ini.
Harganya juga macam-macam sampai 10 juta-an.
3. Polytron
Mungkin Anda memiliki alat-alat
eektronik bermerk Polytron. Ini ternyata produk Indonesia, lho.
Pabriknya saja ada di Semarang dan Kudus. Kalau masalah elektronik,
perusahaan ini memang jagonya. Kenapa? Soalnya perusahaan ini sudah
berdiri sejak 1970-an.
4. Byon
Perkembangan teknologi yang sangat
cepat ternyata tidak membuat negara kita hanya menjadi penonton belaka.
Merk Byon turut meramaikan tren komputer dan notebook. Dengan harga yang
terjangkau, bukan berarti Byon ialah produk yang tidak bermutu. Malahan
memiliki konsep yang cukup tinggi. Kehadiran Byon membuktikan, bahwa
Indonesia juga bisa membuat produk teknologi yang berkelas.
5. Lea
Walaupun produknya berbau-bau
Amerika Serikat, tapi sebenarnya Lea Jeans ini merupakan produk ASLI
Indonesia. Modelnya pun tidak kalah dengan merk-merk jeans kelas dunia
lainnya yang sedang trend saat ini.
6. Tomkins
Mulai dari sepatu sekolah, sepatu
olahraga, sepatu futsal, sampai sepatu bikers pun disediakan sama produk
Tomkins. Kita tidak usah bingung dari namanya yang terkesan Luar
Negeri. Padahal Tomkins sebenarnya sungguh merupakan produk Indonesia.
7. Bodypack dan Eiger
Kedua produk ini bernaung pada satu
induk yang sama. Bedanya, Bodypack sekarang memfokuskan diri pada tas
laptop dan gadget, sedangkan Eiger setia pada produk-produk berbau
aktivitas alam bebas. Kualitas Eiger dan Bodypack sich sudah nggak perlu
dipertanyakan lagi.
8. J.CO Donuts and Coffee
Tahun 2005 Outlet pertama J.CO
donuts and Coffee di Supermall Karawaci di buka. Perlahan, J.CO donuts
and Coffee mengembangkan sayap ke seluruh Indonesia. Bahkan sekarang,
J.CO donuts and Coffee sudah memiliki Outlet di luar negeri, Malaysia
dan Singapura.
9. California Fried Chicken (CFC)
Restoran ayam satu ini memang dari
namanya udah Amerika banget, khan? CFC memiliki 178 gerai di seluruh
Indonesia. Yang terdiri dari 108 Outlet milik perusahaan dan 70 Outlet
milik Terwaralaba.
10. Hoka Hoka Bento
Hoka Hoka Bento merupakan restoran
Masakan Jepang. Restoran yang dinaungi oleh PT. Eka Bogainti ini pertama
kali membuka Outletnya di Kebun Kacang, Jakarta. (bn)
sumber: http://www.ciputraentrepreneurship.com/perusahaan-a-merek/nasional/merek.html
Kamis, 02 Mei 2013
Habibie Siap Bangun Industri Pesawat Di Batam
BATAM-(IDB) : Direktur Pelayanan Terpadu Satu Pintu dan Humas Badan Pengusahaan
(BP) Batam Dwi Djoko Wiwoho mengatakan mantan Presiden BJ Habibie
menyampaikan komitmen untuk merintis industri pesawat terbang di Bandara
Internasional Hang Nadim, Kepulauan Riau.
"Beberapa waktu lalu Pak Habibie sudah menyampaikan komitmennya untuk
merintis industri penerbangan di Batam. Ia menyatakan hanya akan
merintis selama tiga tahun, setelah itu pensiun dan menyerahkan pada
anak-anak terbaik bangsa ini," kata dia.
Hal tersebut, kata Djoko, disampaikan pada Kepala BP Batam Mustofa
Widjaja dan sejumlah petinggi BP Batam di Jakarta saat penandatanganan
pengalokasian 62 hektare dari 100 hektare lahan yang akan dibangun
perkantoran, hanggar, perbaikan dan perawatan berat (maintenance, repair
and overhaul/MRO) oleh PT Indonesia Aero Maintence (IAM) dan Habibie di
perusahaan ituy adalah ketua dewan komisaris.
"Habibie mengatakan hanya mempersiapkan perusahaan. Suatu saat nanti
pemerintah diharapkan yang akan mengambil perusahaan industri pesawat
itu," kata dia.
Djoko mengatakan, Habibie yang juga pernah menjabat kepala Otorita
Batam (sekarang BP Batam) sekitar 18 tahun yakin dalam tiga tahun
perusahaan tersebut akan berkembang pesat sehingga sudah bisa berjalan
sendiri.
"Tujuan lain dari Habibie merintis perusahaan pesawat di Batam untuk
lebih mendapat manfaat dari posisi Batam yang lebih strategis. Bukan
hanya Singapura dan Malaysia yang mendapatkan manfaat," kata Djoko saat
memperdengarkan rekaman pidato Habibie.
Sumber : Republika
Australia makin Gundah dengan Modernisasi Alutsista TNI AU
Dasar pemikiran strategis dari Pimpinan TNI, khususnya TNI AU serta
Kemenhan untuk memodernisasi daya pukul alutsista TNI AU membawa angin
segar dalam bidang pertahanan Indonesia. Kebutuhan akan Angkatan Udara
yang kuat dan disegani tersebut disetujui oleh Presiden SBY, dan
kemudian mendapat apresiasi dan persetujuan DPR. Sebuah kesadaran dan
kebersamaan yang cerdas dalam mempertahankan kedaulatan bangsa dan
negara. Upaya untuk mencapai kekuatan pokok minimum, MEF (Minimum Essential Force) pertahanan masih menjadi fokus kebijakan pembangunan kekuatan dan kemampuan TNI ke depan.
Setelah melalui jalan panjang, TNI AU mulai dibenahi oleh pimpinan nasional yang melihat betapa pentingnya peran angkatan udara disebuah negara. Sebagai contoh, Amerika Serikat memainkan USAF sebagai sarana pendikte dan mementahkan kekuatan militer Libya, dalam membantu pemberontakan di Libya terhadap Kolonel Khadafi. Demikian juga operasi clandestine CIA yang menggunakan pesawat tanpa awak untuk mengejar dan membunuh tokoh-tokoh Al-Qaeda dinyatakan sukses dengan kertugian sangat minim.
TNI AU mulai menggunakan keluarga Sukhoi-27 pada tahun 2003 setelah batalnya kontrak pembelian 12 unit Su-30MKI pada 1996. Kontrak tahun 2003 mencakup pembelian 2 unit Sukhoi-27SK dan 2 unit Sukhoi-30MK senilai 192 juta dolar AS tanpa paket senjata. Itulah awal kebangkitan kekuatan udara Indonesia dalam mengimbangi kekuatan udara negara tetangga.
Disamping itu Indonesia sudah menandatangani kerjasama dengan Korea Selatan, berpartisipasi membangun pesawat tempur generasi 4,5 KFX/IFX (Korean-Indonesian Fighter Xperimental), Boramae, yang dalam rencana awalnya TNI AU akan memiliki sebanyak 50 buah pada tahun 2020. Masa depan KFX/IFX Boramae menjadi tidak jelas setelah Pemerintah Korea Selatan menyatakan memotong anggaran proyek tersebut.
Dari sejarah Indonesia menyangkut kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, konflik dan ancaman kedaulatan negara hanya terjadi karena gesekan dengan negara tetangga. AU Indonesia mulai lebih disegani setelah acara MAKS 2007 di Moskow, dimana Departemen Pertahanan mengumumkan kontrak untuk pembelian 3 unit Sukhoi-27SKM dan 3 unit Sukhoi-30MK2 senilai 350 juta dolar AS. Kini TNI AU sudah memiliki 10 Sukhoi dan akan lengkap menjadi satu skadron pada 2014. Disamping pada 2014 mendatang, TNI AU akan memiliki 34 F-16 setara Block 52 ( 24 F-16 C/D asal dari hibah dan 10 upgrade F-16 TNI AU sepaket dengan hibah F-16).
Kegundahan Australia
Dalam meninjau ancaman, intelijen udara mengukur dari sisi kekuatan, kemampuan dan kerawanan baik unsur penyerang maupun unsur pertahanan musuh ataupun calon musuh. Standar analisa intelijen udara di negara manapun menggunakan standar yang sama, 3K dan 1N(Niat). Sejak operasi Trikora pada 1961, Australia walaupun tidak secara langsung menempatkan Indonesia sebagai ancaman, mengatakan bahwa musuh akan datang dari Utara. Australia menggelar kekuatannya lebih fokus ke Utara, pengamatan wilayah dilakukan dengan over the horizon radar, yang mampu memonitor hingga pulau Jawa dan Kalimantan.
Sejak TNI AU mengikuti latihan bersama Pitch Black 2012, pemerintah Australia, khususnya RAAF merasakan kegundahan dan keterkejutan, dimana Su-30 TNI AU ternyata lebih unggul dibandingkan F-18F Super Hornet hampir disemua lini. Dari hasil latihan tersebut, Australia harus membuat pilihan, memilih rencana pengadaan 100 unit F-35 Lightning dari Amerika (joint strike fighter) atau tetap membeli dua skadron 24 F-18 Super Hornet.
The Business Spectator menyatakan, “Indonesia merencanakan akan membeli 180 pesawat tempur Sukhoi dari Rusia/India yaitu PAK-FA T-50 atau Su-35S. Jadi pertanyaannya lebih baik dipilih F-35 daripada Hornet. Apabila Indonesia kemudian dimasa depan ikut memperkuat Angkatan Udaranya dengan Su-35S atau T-50, maka AU Australia akan menjumpai masalah besar, demikian kesimpulannya.
Siaran pers resmi yang ditulis harian Rossiiskaya Gazeta mengatakan bahwa T-50 akan menggabungkan fungsi dari peran sebagai pesawat serbu dan fungsi sebagai jet tempur. Pesawat ini dilengkapi dengan avionik modern yang mengintegrasikan fungsi elektronik dan array radar. Perlengkapan baru tersebut akan memberikan kesempatan kepada penerbang untuk lebih berkonsentrasi dalam melakukan tugas pertempuran.
Para pengamat militer di Australia menyatakan bahwa dalam memegang slogan RAAF (first look, first shoot, first kill’), para pejabat pertahanan harus berjuang keras mencari jalan keluar dengan tidak mempertahankan Hornet yang dianggap sudah ketinggalan jaman. Sukhoi oleh Australia dinilai terlalu hebat.
Lebih jauh analis Bisnis Spectator menyatakan, “Sebagai contoh, JSF (Joint Srike Fighter) dapat beroperasi secara efektif hanya untuk ketinggian maksimal sekitar 40.000 kaki (walau masih bisa beroperasi lebih tinggi tetapi kalah di tingkat yang lebih tinggi). Sebaliknya, Sukhoi dapat beroperasi pada kapasitas penuh di tingkat yang jauh lebih tinggi dan dengan kelebihan dan keuntungan, mereka memiliki sistem dan senjata yang bisa meruntuhkan sebuah JSF Australia sebelum mereka memiliki kesempatan menerapkan slogannya.” Ditegaskan oleh BS bahwa tidak ada pertempuran udara yang diperlukan. Pesawat Australia sudah runtuh sebelum bertempur, karena disergap jauh sebelum dia menyadarinya.
Jalan keluar yang disarankan adalah apabila Australia (RAAF) memiliki F-22 Raptor atau teknologi Raptor yang diterapkan pada pesawat tempur pilihan yang dipilih. Yang menjadi masalah, Amerika tidak mengijinkan F-22 dijual kepada negara lain selain untuk kepentingan pertahanan dalam negerinya.
Yang menarik, New Australia merekomendasikan Australia justru memilih Sukhoi seperti yang dilakukan India, mendapatkan lisensi dengan ijin membangun Sukhoi Australia, baik Sukhoi Flanker Su-35S atau pesawat Su-32 Fullback. Preferensi saat ini adalah Su-35S. Saat ini Sukhoi memberikan lisensi pembuatan pesawat tempur di India dan China. Australia bisa membeli utuh pesawat Sukhoi dan membangun avioniknya, dan persenjataan lokal. Kini banyak perusahaan di Rusia, Asia, Israel dan Eropa terlibat dalam pembuatan komponen Sukhoi. Sukhoi adalah ‘open source’, demikian menurut New Asia.
Dalam pemikiran strategis, Australia selain memandang Indonesia sebagai ancaman, juga menempatkan India sebagai ancaman. Selain itu perkembangan situasi Hankam di kawasan Laut Pasifik Selatan, menjadi perhatian Australia dengan kerjasamanya bersama Amerika. Pada pemerintahan Kevin Ruud Australia berposisi anti India, pada posisi ini menempatkan Australia terpaksa membeli F-35. Dalam pemerintahan Julian Gillard, Australia akan mendekati India dan menjadi sekutunya, berpeluang bisa mendapatkan peluang memiliki T-50. Australia menurut RBTH lebih baik memiliki Super Flankers yang murah (USD 66 juta/buah) dibandingkan harga F-35 (USD 238 juta).
Sukhoi dinilai jauh lebih unggul dibandingkan JSF. Su-35 memiliki jangkauan efektif sekitar 4.000 km dibandingkan dengan hanya 2.200 km untuk F-35. . Ini berarti JSF membutuhkan dukungan pesawat tanker untuk menutup ruang (wilayah Australia) yang lebarnya 4.000km. Selain itu, kecepatan Su-35 adalah Mach 2,4 (hampir dua setengah kali kecepatan suara), sedangkan F-35 terbatas pada Mach 1.6. Menurut Victor M. Chepkin, pertama wakil direktur umum NPO Saturn, mesin AL-41f baru akan memungkinkan jet Rusia untuk supercruise (terbang pada kecepatan supersonik untuk jarak jauh.) Dengan tidak harus beralih ke afterburner. Dengan demikian, pesawat dapat mengirit bahan bakarnya. Kesimpulannya baik F-35 maupun F-18 performance-nya berada dibawah Su-35.
Kini Australia menghadapi dilema kegundahan. RAAF terus mengikuti perkembangan modernisasi TNI AU. Dengan memiliki keluarga Flankers, maka Indonesia pada masa mendatang bukan tidak mungkin akan bisa memiliki pesawat tempur Su-35, dan bahkan pesawat tempur T-50 generasi kelima. T-50 PAK FA jet tempur (Prospective Airborne Complex of Frontline Aviation) kini sedang mengalami uji engine di Zhukovsky Airfield, Moscow. Menurut Viktor Bondarev, Commander in Chief Russian Air Force, tes T-50 akan memakan waktu sekitar 2-2,5 tahun, sehingga pada tahun 2015-2016, T-50 akan sudah dapat di kirim ke AU Rusia.
Berdasarkan beberapa fakta tersebut, nampaknya Australia kini berada dalam kondisi mengalami kegundahan seperti tahun 1961, dimana Tu-16 AURI mampu mencapai daratannya tanpa terdeteksi dan tidak dapat diantisipasi. Dengan memiliki gabungan alutsista tempur udara Timur dan Barat, Indonesia kini menjadi negara yang disegani negara-negara tetangganya.
Australia menjadi lebih gundah setelah mengetahui Indonesia tertarik untuk mendirikan sebuah pusat perawatan bersama untuk pesawat fixed dan rotary wing Rusia. Victor Komardin, wakil kepala Rosoboronexport, eksportir peralatan perang Rusia, telah mengumumkan hal tersebut di Air show LIMA 2013 di Malaysia.
Disimpulkan, dengan sudah mengawali kepemilikan keluarga Flankers (Su 27/30), Indonesia (TNI AU) menjadi negara yang sangat diperhitungkan oleh Australia dan pasti juga oleh tetangga lainnya. Alih teknologi ke pesawat yang lebih canggih hanyalah soal waktu yang tidak terlalu rumit dilakukan TNI AU apabila ada pengembangan kekuatan. Australia sangat khawatir Indonesia berpeluang memiliki Su-35 dan bukan tidak mungkin dengan ekonominya yang semakin baik, suatu saat Indonesia akan memiliki pesawat tempur T-50.
Memang sebaiknya intelijen udara berfikir jauh dan strategis, memperkirakan perkembangan situasi global dan regional dan memberikan masukan kepada pimpinan yang up to date. Yang terutama harus kita fahami adalah betapa pentingnya kemampuan TNI AU dengan daya “kepruknya.” Itulah prinsip dasarnya agar kita diperhitungkan. Semoga bermanfaat.
Oleh : Prayitno Ramelan, Air Vice Marshal (Ret), www.ramalanintelijen.net
Setelah melalui jalan panjang, TNI AU mulai dibenahi oleh pimpinan nasional yang melihat betapa pentingnya peran angkatan udara disebuah negara. Sebagai contoh, Amerika Serikat memainkan USAF sebagai sarana pendikte dan mementahkan kekuatan militer Libya, dalam membantu pemberontakan di Libya terhadap Kolonel Khadafi. Demikian juga operasi clandestine CIA yang menggunakan pesawat tanpa awak untuk mengejar dan membunuh tokoh-tokoh Al-Qaeda dinyatakan sukses dengan kertugian sangat minim.
TNI AU mulai menggunakan keluarga Sukhoi-27 pada tahun 2003 setelah batalnya kontrak pembelian 12 unit Su-30MKI pada 1996. Kontrak tahun 2003 mencakup pembelian 2 unit Sukhoi-27SK dan 2 unit Sukhoi-30MK senilai 192 juta dolar AS tanpa paket senjata. Itulah awal kebangkitan kekuatan udara Indonesia dalam mengimbangi kekuatan udara negara tetangga.
Disamping itu Indonesia sudah menandatangani kerjasama dengan Korea Selatan, berpartisipasi membangun pesawat tempur generasi 4,5 KFX/IFX (Korean-Indonesian Fighter Xperimental), Boramae, yang dalam rencana awalnya TNI AU akan memiliki sebanyak 50 buah pada tahun 2020. Masa depan KFX/IFX Boramae menjadi tidak jelas setelah Pemerintah Korea Selatan menyatakan memotong anggaran proyek tersebut.
Dari sejarah Indonesia menyangkut kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara, konflik dan ancaman kedaulatan negara hanya terjadi karena gesekan dengan negara tetangga. AU Indonesia mulai lebih disegani setelah acara MAKS 2007 di Moskow, dimana Departemen Pertahanan mengumumkan kontrak untuk pembelian 3 unit Sukhoi-27SKM dan 3 unit Sukhoi-30MK2 senilai 350 juta dolar AS. Kini TNI AU sudah memiliki 10 Sukhoi dan akan lengkap menjadi satu skadron pada 2014. Disamping pada 2014 mendatang, TNI AU akan memiliki 34 F-16 setara Block 52 ( 24 F-16 C/D asal dari hibah dan 10 upgrade F-16 TNI AU sepaket dengan hibah F-16).
Kegundahan Australia
Dalam meninjau ancaman, intelijen udara mengukur dari sisi kekuatan, kemampuan dan kerawanan baik unsur penyerang maupun unsur pertahanan musuh ataupun calon musuh. Standar analisa intelijen udara di negara manapun menggunakan standar yang sama, 3K dan 1N(Niat). Sejak operasi Trikora pada 1961, Australia walaupun tidak secara langsung menempatkan Indonesia sebagai ancaman, mengatakan bahwa musuh akan datang dari Utara. Australia menggelar kekuatannya lebih fokus ke Utara, pengamatan wilayah dilakukan dengan over the horizon radar, yang mampu memonitor hingga pulau Jawa dan Kalimantan.
Sejak TNI AU mengikuti latihan bersama Pitch Black 2012, pemerintah Australia, khususnya RAAF merasakan kegundahan dan keterkejutan, dimana Su-30 TNI AU ternyata lebih unggul dibandingkan F-18F Super Hornet hampir disemua lini. Dari hasil latihan tersebut, Australia harus membuat pilihan, memilih rencana pengadaan 100 unit F-35 Lightning dari Amerika (joint strike fighter) atau tetap membeli dua skadron 24 F-18 Super Hornet.
The Business Spectator menyatakan, “Indonesia merencanakan akan membeli 180 pesawat tempur Sukhoi dari Rusia/India yaitu PAK-FA T-50 atau Su-35S. Jadi pertanyaannya lebih baik dipilih F-35 daripada Hornet. Apabila Indonesia kemudian dimasa depan ikut memperkuat Angkatan Udaranya dengan Su-35S atau T-50, maka AU Australia akan menjumpai masalah besar, demikian kesimpulannya.
Siaran pers resmi yang ditulis harian Rossiiskaya Gazeta mengatakan bahwa T-50 akan menggabungkan fungsi dari peran sebagai pesawat serbu dan fungsi sebagai jet tempur. Pesawat ini dilengkapi dengan avionik modern yang mengintegrasikan fungsi elektronik dan array radar. Perlengkapan baru tersebut akan memberikan kesempatan kepada penerbang untuk lebih berkonsentrasi dalam melakukan tugas pertempuran.
Para pengamat militer di Australia menyatakan bahwa dalam memegang slogan RAAF (first look, first shoot, first kill’), para pejabat pertahanan harus berjuang keras mencari jalan keluar dengan tidak mempertahankan Hornet yang dianggap sudah ketinggalan jaman. Sukhoi oleh Australia dinilai terlalu hebat.
Lebih jauh analis Bisnis Spectator menyatakan, “Sebagai contoh, JSF (Joint Srike Fighter) dapat beroperasi secara efektif hanya untuk ketinggian maksimal sekitar 40.000 kaki (walau masih bisa beroperasi lebih tinggi tetapi kalah di tingkat yang lebih tinggi). Sebaliknya, Sukhoi dapat beroperasi pada kapasitas penuh di tingkat yang jauh lebih tinggi dan dengan kelebihan dan keuntungan, mereka memiliki sistem dan senjata yang bisa meruntuhkan sebuah JSF Australia sebelum mereka memiliki kesempatan menerapkan slogannya.” Ditegaskan oleh BS bahwa tidak ada pertempuran udara yang diperlukan. Pesawat Australia sudah runtuh sebelum bertempur, karena disergap jauh sebelum dia menyadarinya.
Jalan keluar yang disarankan adalah apabila Australia (RAAF) memiliki F-22 Raptor atau teknologi Raptor yang diterapkan pada pesawat tempur pilihan yang dipilih. Yang menjadi masalah, Amerika tidak mengijinkan F-22 dijual kepada negara lain selain untuk kepentingan pertahanan dalam negerinya.
Yang menarik, New Australia merekomendasikan Australia justru memilih Sukhoi seperti yang dilakukan India, mendapatkan lisensi dengan ijin membangun Sukhoi Australia, baik Sukhoi Flanker Su-35S atau pesawat Su-32 Fullback. Preferensi saat ini adalah Su-35S. Saat ini Sukhoi memberikan lisensi pembuatan pesawat tempur di India dan China. Australia bisa membeli utuh pesawat Sukhoi dan membangun avioniknya, dan persenjataan lokal. Kini banyak perusahaan di Rusia, Asia, Israel dan Eropa terlibat dalam pembuatan komponen Sukhoi. Sukhoi adalah ‘open source’, demikian menurut New Asia.
Dalam pemikiran strategis, Australia selain memandang Indonesia sebagai ancaman, juga menempatkan India sebagai ancaman. Selain itu perkembangan situasi Hankam di kawasan Laut Pasifik Selatan, menjadi perhatian Australia dengan kerjasamanya bersama Amerika. Pada pemerintahan Kevin Ruud Australia berposisi anti India, pada posisi ini menempatkan Australia terpaksa membeli F-35. Dalam pemerintahan Julian Gillard, Australia akan mendekati India dan menjadi sekutunya, berpeluang bisa mendapatkan peluang memiliki T-50. Australia menurut RBTH lebih baik memiliki Super Flankers yang murah (USD 66 juta/buah) dibandingkan harga F-35 (USD 238 juta).
Sukhoi dinilai jauh lebih unggul dibandingkan JSF. Su-35 memiliki jangkauan efektif sekitar 4.000 km dibandingkan dengan hanya 2.200 km untuk F-35. . Ini berarti JSF membutuhkan dukungan pesawat tanker untuk menutup ruang (wilayah Australia) yang lebarnya 4.000km. Selain itu, kecepatan Su-35 adalah Mach 2,4 (hampir dua setengah kali kecepatan suara), sedangkan F-35 terbatas pada Mach 1.6. Menurut Victor M. Chepkin, pertama wakil direktur umum NPO Saturn, mesin AL-41f baru akan memungkinkan jet Rusia untuk supercruise (terbang pada kecepatan supersonik untuk jarak jauh.) Dengan tidak harus beralih ke afterburner. Dengan demikian, pesawat dapat mengirit bahan bakarnya. Kesimpulannya baik F-35 maupun F-18 performance-nya berada dibawah Su-35.
Kini Australia menghadapi dilema kegundahan. RAAF terus mengikuti perkembangan modernisasi TNI AU. Dengan memiliki keluarga Flankers, maka Indonesia pada masa mendatang bukan tidak mungkin akan bisa memiliki pesawat tempur Su-35, dan bahkan pesawat tempur T-50 generasi kelima. T-50 PAK FA jet tempur (Prospective Airborne Complex of Frontline Aviation) kini sedang mengalami uji engine di Zhukovsky Airfield, Moscow. Menurut Viktor Bondarev, Commander in Chief Russian Air Force, tes T-50 akan memakan waktu sekitar 2-2,5 tahun, sehingga pada tahun 2015-2016, T-50 akan sudah dapat di kirim ke AU Rusia.
Berdasarkan beberapa fakta tersebut, nampaknya Australia kini berada dalam kondisi mengalami kegundahan seperti tahun 1961, dimana Tu-16 AURI mampu mencapai daratannya tanpa terdeteksi dan tidak dapat diantisipasi. Dengan memiliki gabungan alutsista tempur udara Timur dan Barat, Indonesia kini menjadi negara yang disegani negara-negara tetangganya.
Australia menjadi lebih gundah setelah mengetahui Indonesia tertarik untuk mendirikan sebuah pusat perawatan bersama untuk pesawat fixed dan rotary wing Rusia. Victor Komardin, wakil kepala Rosoboronexport, eksportir peralatan perang Rusia, telah mengumumkan hal tersebut di Air show LIMA 2013 di Malaysia.
Disimpulkan, dengan sudah mengawali kepemilikan keluarga Flankers (Su 27/30), Indonesia (TNI AU) menjadi negara yang sangat diperhitungkan oleh Australia dan pasti juga oleh tetangga lainnya. Alih teknologi ke pesawat yang lebih canggih hanyalah soal waktu yang tidak terlalu rumit dilakukan TNI AU apabila ada pengembangan kekuatan. Australia sangat khawatir Indonesia berpeluang memiliki Su-35 dan bukan tidak mungkin dengan ekonominya yang semakin baik, suatu saat Indonesia akan memiliki pesawat tempur T-50.
Memang sebaiknya intelijen udara berfikir jauh dan strategis, memperkirakan perkembangan situasi global dan regional dan memberikan masukan kepada pimpinan yang up to date. Yang terutama harus kita fahami adalah betapa pentingnya kemampuan TNI AU dengan daya “kepruknya.” Itulah prinsip dasarnya agar kita diperhitungkan. Semoga bermanfaat.
Oleh : Prayitno Ramelan, Air Vice Marshal (Ret), www.ramalanintelijen.net
Selasa, 30 April 2013
Saatnya Memperkuat Natuna
Ambisi ekspansi
klaim teritorial Cina sudah menampakkan inkubasinya dan mulai memberikan rasa
gerah pada negara di sekitarnya yang berseteru.
Sepertinya dia tidak peduli dengan protes negara tetangganya antara lain
Jepang, Vietnam, Filipina dan Malaysia. Cina
sedang giat membangun kekuatan milternya dan bercita-cita menjadi kekuatan berkemampuan
serbu. Kemampuan untuk itu sudah di
depan mata. Manuver armada angkatan
lautnya di Laut Cina Selatan sudah membuat Filipina, Vietnam dan Malaysia
berteriak kencang.
Salah satu
halaman yang diperebutkan itu adalah perairan Natuna yang notabene adalah pagar
terdepan teritori Indonesia. Jika
terjadi tawuran bersenjata di halaman itu bukan mustahil pagar rumah kita kena
imbas bahkan ikut diobrak abrik. Nah
karena ini menyangkut pagar kehormatan bangsa tentu jalan terbaik adalah
memperkuat pagar tadi dengan konstruksi “beton bertulang”. Maksudnya pengawal republik dan sejumlah
persenjataannya wajib digelar di bumi Natuna.
Tidak hanya alat pandang dengar berupa satuan radar dan satuan intelijen
tok, tapi alat pemukulnya juga harus ikut dibawa dan disandingkan disana.
![]() |
| Peta hotspot lidah naga Cina |
Perwujudannya
bisa berupa peningkatan status Lanal Natuna menjadi pangkalan utama (Lantamal)
dan menjadi salah satu basis kehadiran sejumlah KRI striking force. Demikian juga dengan pangkalan udara Ranai
sudah harus tersedia dan menginap ditempat sejumlah jet tempur dan pesawat
intai maritim untuk memberikan nilai kewibawaan pada pagar bertulang tadi. Angkatan Darat diwajibkan pula menggelar
satuan arhanud dengan kemampuan rudal SAM jarak sedang. Saat ini Armada Barat sedang menggelar operasi gugus tempur laut di Natuna dengan kekuatan 12 KRI.
Lho emang
kita mau perang. Jawabnya tidak. Kehadiran satuan tempur TNI di Natuna justru
untuk menjaga agar tidak terjadi konflik sekaligus menjaga kehormatan dan
kedaulatan teritori NKRI. Kehadiran
sejumlah KRI di Natuna diyakini mampu mengefisienkan biaya operasi patroli gugus
keamanan laut atau gugus tempur laut karena dukungan logistik dan amunisi lebih
dekat. Tidak seperti sekarang jika satuan
patroli tadi melakukan tugasnya, jarak tempuh dan dukungan logistik dari
Tanjung Pinang dan Jakarta menjadi bengkak karena jauhnya jarak dan harus isi
ulang logistik. Demikian juga dalam hal
kecepatan reaksi diperlukan waktu minimal 4 hari untuk sampai di Natuna.
Pergelaran
milter dalam ukuran global ketika terjadi perang dingin antara NATO dan Pakta
Warsawa, puluhan ribu prajurit dan alutsista di sepanjang garis perbatasan
kedua blok cukup mencengangkan. Ribuan
MBT, Artileri, Rudal, Jet Tempur, Kapal Perang pada siaga semuanya tapi toh
tidak terjadi insiden apalagi konflik terbuka sampai akhirnya salah satu blok
militer itu bubar jalan. Jadi gelar
militer itu justru memberikan rasa enggan untuk memulai atau mengganggu. Natuna harus dilihat dalam perspektif itu. Perspektif lain adalah kandungan minyak dan
gas bumi di kawasan itu yang sangat besar.
Itu harus dilindungi.
![]() |
| Masjid Raya Natuna, luar biasa |
Sebenarnya
ada dua nilai tambah yang diperoleh dengan memperkuat Natuna sebagai basis
militer gabungan setingkat brigade. Selain untuk menjaga kewibawaan teritori dari
klaim Cina juga menjadi kekuatan yang mampu melakukan blokade militer dari
pergerakan militer negara tetangga yang berkepentingan dengan klaim Ambalat. Pergerakan armada angkatan laut negara jiran
yang hendak menuju Ambalat jika terjadi konflik terbuka akan mampu dihadang
oleh armada barat TNI AL yang berada di Natuna dan Tanjung Pinang.
Perkuatan
angkatan laut dengan membentuk tiga armada tempur tentu sangat diharapkan.
Lebih dari itu pengisian KRI striking force adalah formula utamanya yang akan
memberikan nilai kekuatan gebuk armada.
Saat ini sedang disiapkan penambahan kekuatan. PT PAL dan galangan kapal swasta dalam negeri
sedang membangun sedikitnya 20 kapal perang berbagai jenis. Dengan Belanda sedang dibangun 2-3 kapal
perang jenis PKR, sementara 3 kapal perang second ex Brunai jenis korvet sedang
dipoles sebelum datang di tanah air.
Demikian juga dengan pengerjaan 3 kapal selam Changbogo di Korsel sedang
dalam proses.
Sejalan
dengan pengembangan armada angkatan laut dan pembentukan Kogabwilhan maka
Natuna sangat diharapkan menjadi salah satu opsi untuk basis kekuatan militer
dengan alutsista pemukulnya. Natuna diyakini akan masuk Kogabwilhan I dengan
Sumatera sebagai induknya dan Medan sebagai “Mabesnya”. Lantamal yang ada di Armada Barat saat ini
adalah Tanjung Pinang, Belawan, Padang dan Jakarta. Secara geografi posisi Tanjung Pinang adalah
yang terdekat dengan Natuna meski masih harus berlayar sejauh 550 km jarak
udara.
Oleh sebab
itu diperlukan peningkatan status Natuna dengan menjadikannya sebagai pangkalan
utama TNI AL. Kecepatan reaksi salah
satu argumennya. Misalnya ada pergerakan
armada angkatan laut negara asing di perairan utara Natuna maka satuan KRI yang
ada di Lantamal Natuna lebih cepat mengantisipasinya. Itu aspek teknis
operasionalnya. Lebih dari itu dari
aspek strategis menempatkan satuan pemukul KRI, rudal SAM dan jet tempur
di kawasan Natuna tentu memberikan nilai
kewibawaan bagi bangsa ini. Sudah saatnya kita memperkuat Natuna dan TNI memang
harus tampil gagah menjaga kewibawaan negeri ini.
*****
Jagvane /
29 April 2013
Minggu, 21 April 2013
Bangkitnya Kembali Pabrik Pesawat RI
Sebuah pesawat CN 235
Maritime Patrol (MPA) pesanan TNI Angkatan Laut terparkir di hanggar PT
Dirgantara Indonesia (PTDI). Berkelir hijau, pesawat itu baru saja lulus
uji coba terbang selama satu jam di langit Jawa Barat awal April 2013
lalu.
Para teknisi PTDI
berkerubung di pesawat seharga US21,5 juta per buahnya itu. Burung besi
produksi PTDI bekerjasama Airbus Military itu hendak diperkuat dengan
radar pengintai lautan, dan kamera beresolusi tinggi.
“Radar itu dapat melihat
hingga 200 meter di bawah permukaan laut,” kata mantan Kepala Humas
PTDI, Rakhendi Priatna yang menemani VIVAnews berkeliling di pabrik pembuatan pesawat PTDI, di lahan seluas 80 hektar, awal April 2013 lalu.
Di belakang CN 235 MPA,
tampak antri dua pesawat lainnya. Semua menunggu kelihaian tangan para
teknisi. PTDI memang saat ini tengah kebanjiran berbagai pesanan
pesawat, khususnya CN 235. Pada 2012, PTDI berhasil membuat empat unit
CN 235, dua unit NC 212, dua unit Super Puma, satu unit CN 195 dan 12
unit Bell 412.
Setelah terpuruk dihajar
badai krisis moneter 1997, perusahaan itu kini mencoba bangkit. Hanggar
yang dulu sempat sepi, kini ramai dengan beragam pekerjaan. Order
mengalir, dan rezeki pun tumpah. Setelah merugi sembilan tahun, baru
pada 2012 perusahaan menangguk laba.
Terakhir, rapor
keuangannya biru pada 2002, dengan laba bersih Rp11,26 miliar. Setelah
itu, kantong PTDI pun kempis. Hutangnya seawan, dan nyaris kolaps.
Sekitar 16 ribu karyawan dipecat, dan hanya tersisa 4.000. Para
insinyur terbaik pun hengkang ke berbagai pabrik pesawat dunia.
Lebih tragis lagi,
perusahaan perakit pesawat itu sampai terpaksa membuat panci agar bisa
bertahan hidup. “Sepanjang 2003 hingga 2007 PTDI ini tak pernah tutup
buku. Sehingga kami harus mulai tutup buku 2003-2007,” kenang Direktur
Utama PTDI, Budi Santoso.
Budi bukanlah orang baru
di PTDI.
Ia bergabung sejak 1987, saat masih bernama IPTN. Pada 1998
lalu, ia pindah menjadi Direktur Utama PT Pindad, dan berhasil. Pada
2007 lalu, doktor ilmu robotika dari Katholieke Universiteit Leuven,
Belgia, ini diminta pemerintah membenahi PTDI.
Saat ia baru memimpin,
Budi dicegat oleh banyak persoalan. Ribuan bekas karyawan berdemonstrasi
menuntut pesangon. Dan soal itu terus menguras energinya. Ditambah
beban hutang, khususnya hutang kepada pemerintah yang mencapai Rp3,8
triliun. Kas keuangan PTDI kandas saat itu.
Dia lalu membereskannya
tahap demi tahap. Pada 2009, semua urusan masa lalu itu kelar. Setelah
diaudit BPK, instansi pajak, dan berbagai lembaga, utang ke pemerintah
itu pun beres. “Kami minta utang kepada pemerintah dikonversi menjadi
modal. Duitnya sih tidak ada, hanya di atas kertas. Tapi ia tidak
menjadi beban keuangan PTDI,” katanya.
Tangan dingin Budi
Santoso perlahan menuai hasil. Pada 2012 lalu, perusahaan membukukan
laba bersih sekitar Rp40 miliar, dengan pendapatan Rp2,68 triliun.
Pendapatan terbesar disumbang oleh pembuatan pesawat sebesar Rp2,3
triliun, manufaktur komponen Rp236 miliar, jasa teknisi dan alutsista
Rp65 miliar, dan dari perawatan pesawat Rp104 miliar.
Tiga langkah
Beresnya utang masa lalu
itu, kata Budi Santoso, menjadi titik balik PTDI. Pada akhir 2011,
mendapatkan kucuran dana Penyertaan Modal Negara (PMN) sebesar Rp2,06
triliun. Direksi tidak menyia-nyiakan dana itu, dan langsung memakainya
untuk modernisasi mesin, hanggar dan sumber daya manusia.
Direktur Niaga dan
Restrukturisasi, Budiman Saleh menjelaskan PTDI telah mengalokasikan
Rp270 miliar membeli berbagai mesin produksi serta membenahi dan
membangun hanggar baru senilai Rp140 miliar. Nantinya, PTDI akan
mempunyai dua hanggar perakitan pesawat.
Satu hanggar baru tersebut baru akan beroperasi pada Semester I 2014, dan mampu merakit pesawat besar seperti CN 295.
Tiga langkah
restrukturisasi pun dilakukan. Pertama, pada fase darurat, selama
2011-2012, dibenahi kondisi internal. Kedua, adalah tahap stabilisasi
pada 2012-2013. Pada fase ini perusahaan melakukan berbagai investasi
dan revitalisasi. Terakhir, diharapkan pada 2015 ke atas, PTDI
diharapkan lepas dari ketergantungan pada pemerintah.
“Saat ini kami sedang
dalam tahap fase kedua. Kita lakukan pencarian pendanaan untuk
permodalan, pemetaan pasar dan persiapan produk baru seperti N 219,”
kata Budiman.
Saat ini, untuk bergerak
perusahaan memang tergantung pada rezeki dari pemerintah. Misalnya, PTDI
meraup kontrak hingga Rp7 triliun hingga tiga tahun mendatang, sebagian
besar dari Kementerian Pertahanan. Tapi setelah itu, PTDI diminta untuk
mandiri.
“Kami perlu hidup. Bisnis pesawat terbang bukan sesuatu yang instan,” kata Budi Santoso.
Bantuan itu, kata Budi,
penting. Ia seperti efek bola salju. Konsumen melihat perusahaan mulai
bangkit, dan tanpa diundang, mereka datang ke pabrik dan melakukan
kerjasama. “Lima tahun lalu, saat saya pertama kali menjadi Direktur
Utama, hal ini tidak pernah saya bayangkan,” katanya.
Menggandeng Airbus
Salah satu kunci
keberhasilan PTDI adalah belajar dari kesalahan masa lalu. Sewaktu masih
bernama IPTN, perusahaan ini “jor-joran” mengembangkan berbagai macam
pernik pesawat walaupun tidak ekonomis. Insinyur mereka waktu itu
sangat menguasai teknologi, tapi tidak mengerti ilmu marketing.
“Ternyata, mengerti teknologi saja tidak cukup. Bagian lain adalah menguasai pasar, kami tidak pernah pelajari hal tersebut,” kata Budi.
Jalan lain mendongkrak kembali
perusahaan yang “pingsan” sejak krisis 1997 lalu adalah usaha
menggandeng industri penerbangan lain yang telah berkibar, yaitu Airbus
dan Boeing. “Dua-duanya kami jajaki,” ujar Budi.
Namun, yang terdekat
adalah EADS, perusahaan yang termasuk grupnya Airbus. Secara sejarah,
PTDI lebih dekat, meskipun dulu mereka pernah punya hubungan dengan
Boeing.
Cara ini, kata Budi,
lebih efektif. Soalnya, membuat pasar baru membutuhkan waktu hingga
puluhan tahun.
PTDI tidak mungkin menanti selama itu, bisa keburu mati.
Cara PTDI mirip seperti yang dilakukan Lenovo dan IBM. “Lenovo dahulu
menggunakan merek IBM hingga orang-orang sadar IBM itu Lenovo. Sekarang
Lenovo tidak memakai nama IBM namun tetap laku,” katanya.
Cara ini mulai membuahkan
hasil. PTDI kini menerapkan standar administrasi hingga membuat
pesawat, yang sesuai standar Airbus, baik EADS Airbus dan Airbus
Military, membantu dari teknik hingga non teknik. Per tahun, PTDI
mendapatkan kontrak Rp180-200 miliar. Dengan bekal inilah, PTDI bertekad
membuat pesawat asli Indonesia.
Selain dengan EADS, PTDI juga menjalin kerjasama dengan Eurocopter Family yang juga dibawah EADS untuk membuat body helikopter MK II, yaitu tailboom dan fuselage senilai Rp5 miliar. Selain itu PTDI juga menjadi subkontrak CTRM dan Korean Air senilai Rp10 miliar.
Berbagai pesanan inilah
yang membuat para karyawan PTDI bergairah. Saat ini, pabrik PTDI
berjalan dua shift. Pada shift malam mereka akan mengejar produksi jika
terjadi masalah di dua shift sebelumnya. Saking penuhnya order, PTDI
tidak berani mengambil pekerjaan lagi. Kapasitas produksi perusahan itu
sudah penuh.
“Maka, kalau ada yang
bilang kami menganggur, itu salah. Dengan modernisasi saat ini, PTDI 2-3
kali lebih produktif dari yang lama,” katanya.
Jet tempur
Mesin-mesin buatan Jerman, Italia dan Taiwan terbaru sejak 2012 lalu telah hadir di pabrik PTDI. Mesin CNC (Computerized Numerical Control),
di antaranya Quaser MV 18C, Haas VF6-50, Haas VR 11 B Deckel Maho DMU
100 mB, dan mesin Gantry Jobs LINX30 serta Gantry Matec 30 P membuat
semangat baru bagi para teknisi. Urusan produksi menjadi lebih cepat.
Meski begitu,
kapasitasnya belum setara dengan pabrik besar seperti Airbus. Untuk
membuat sebuah pesawat dari nol hingga bisa terbang PTDI membutuhkan
waktu 8-12 bulan. Sementara Airbus dan Boeing, rata-rata hanya butuh dua
pekan. Dengan mesin baru, waktu produksi diharapkan bisa diringkas
menjadi dua bulan.
Bermodal mesin itu pula,
perusahaan yakin dapat meraup laba lebih besar. Pada 2013 ini PTDI
menargetkan pendapatan sebesar Rp3 triliun, dengan target laba bersih
Rp60 miliar. Pada 2012 laba tercatat Rp40 miliar. Perusahaan kini mulai
percaya diri, misalnya meminjam dana ke Bank sebagai modal kerja.
Secara potensial, PTDI masih bisa mengembangkan CN-235 menjadi CN-234 Next Generation.
CN-235 adalah proyek bersama antara PTDI dengan CASA. PTDI diberikan
kebebasan oleh CASA untuk memberikan berbagai inovasi pada CN-235. Salah
satunya menambahkan wing tips untuk menambah kestabilan pesawat.
Selain itu, C-212 versi improvement,
harganya lebih murah, dan kapasitasnya juga bertambah. “Kami juga
menargetkan pusat perawatan PTDI dapat merawat Airbus A320 di
Indonesia,” ujar Budi.
Agar makin tokcer di masa
depan, perusahaan itu akan merekrut generasi muda. Penerimaan
besar-besaran insinyur PTDI terjadi pada 1982-1986. Setelah itu, tidak
ada lagi. Kini sekitar 45 persen sumber daya ahli di perusahaan itu,
khususnya para engineer, telah memasuki masa pensiun.
Kini, pegawai baru direkrut secara bertahap. “Yang pensiun, akan kami pertahankan 1-2 orang sebagai pelatih engineer baru. Cara ini kami gunakan mengatasi lost generation di PTDI,” kata Budiman.
Sebagai bahan latihan
bagi para insinyur muda, PTDI menyiapkan N 219. Pesawat berkapasitas 19
orang ini akan dijadikan model agar para insiyur muda mengetahui satu
siklus pembuatan pesawat.
Dari produk N 219 inilah,
tenaga ahli muda itu dapat mengembangkan beragam jenis pesawat. Bukan
tak mungkin suatu saat mereka menciptakan pesawat jet komersial seperti
N2130 yang mati suri. Atau pesawat tempur IF-X/K-FX, kolaborasi PTDI
dengan Korea Selatan.
Proyek terakhir itu kini
memang tidak jelas nasibnya. Sebab, Korea Selatan memotong anggaran
riset, serta pemerintah Turki mengundurkan diri dari program itu. (np)
Sumber : Vivanews
Rabu, 17 April 2013
5 Kapal Selam Milik Indonesia Patroli Perbatasan.
SORONG
Kapal selam 402 milik TNI Angkatan Laut yang sedang melakukan patroli
rutinitas di perairan perbatasan negara, kemarin sore sekitar pukul
15.00 Wit singgah di Pelabuhan Sorong.
Sandarnya kapal selam yang bermarkas di Surabaya tersebut, untuk mengisi BBM, serta mengisi air tawar dan menguatkan bahan makanan.
Rencananya setelah keperluan itu tercukupi kapal selam akan kembali melanjutkan misi nya keliling perbatasan perairan negara. Komandan kapal selam Letkol Purwanto melalui wakil komandan Mayor Muhammad Dimas yang ditemui wartawan, mengatakan singgahnya kapal selam tersebut karena di Sorong terdapat pangkalan.
Ia sendiri belum dapat memastikan sampai kapan kapal yang dapat menyelam hingga 300 meter dibawah permukaan laut itu berada di Sorong. namun menurutnya direncanakan dalam waktu dekat harus sudah kembali berlayar.
Bukan kunjungan tetapi kami singgah karena di sini kan ada pangkalan, untuk mengisi bahan bakar dan juga mengisi air tawar dan bahan makanan,katanya seraya menambahkan, perlunya mengisi BBM , setelah sempat tiga pekan berlayar dan menyelam untuk mengelilingi perbatasan perairan negara.
Kalau untuk kondisi di perbatasan perairan sendiri sampai saat ini masih aman terkendali, tegasnya. Kapal selam tersebut sebelumnya sandar di Kupang dan melanjutkan perjalanan tujuan Sorong.
Kapal yang berangkat dari Surabaya kurang lebih satu setengah bulan lalu tersebut, mengangkut 66 anggota yang dilengkapi dengan peralatan khusus. Kapal selam sendiri, menurutnya sempat singgah di Sorong pada tahun 2002 lalu.
Untuk selanjutnya kita masih menunggu perintah, bisa saja saat dalam perjalanan ditengah laut mendapat perintah gerak kemana ya kita laksanakan,paparnya.
Dikatakannya,saat ini ada lima kapal selam milik Indonesia yang sedang beroperasi dengan kondisi yang baik. Kapal selam sendiri sandar di pelabuhan Sorong, tepatnya di pelabuhan sebelah kanan disamping kapal pengangkut container.(reg)
Sumber : Radar Timika
Sandarnya kapal selam yang bermarkas di Surabaya tersebut, untuk mengisi BBM, serta mengisi air tawar dan menguatkan bahan makanan.
Rencananya setelah keperluan itu tercukupi kapal selam akan kembali melanjutkan misi nya keliling perbatasan perairan negara. Komandan kapal selam Letkol Purwanto melalui wakil komandan Mayor Muhammad Dimas yang ditemui wartawan, mengatakan singgahnya kapal selam tersebut karena di Sorong terdapat pangkalan.
Ia sendiri belum dapat memastikan sampai kapan kapal yang dapat menyelam hingga 300 meter dibawah permukaan laut itu berada di Sorong. namun menurutnya direncanakan dalam waktu dekat harus sudah kembali berlayar.
Bukan kunjungan tetapi kami singgah karena di sini kan ada pangkalan, untuk mengisi bahan bakar dan juga mengisi air tawar dan bahan makanan,katanya seraya menambahkan, perlunya mengisi BBM , setelah sempat tiga pekan berlayar dan menyelam untuk mengelilingi perbatasan perairan negara.
Kalau untuk kondisi di perbatasan perairan sendiri sampai saat ini masih aman terkendali, tegasnya. Kapal selam tersebut sebelumnya sandar di Kupang dan melanjutkan perjalanan tujuan Sorong.
Kapal yang berangkat dari Surabaya kurang lebih satu setengah bulan lalu tersebut, mengangkut 66 anggota yang dilengkapi dengan peralatan khusus. Kapal selam sendiri, menurutnya sempat singgah di Sorong pada tahun 2002 lalu.
Untuk selanjutnya kita masih menunggu perintah, bisa saja saat dalam perjalanan ditengah laut mendapat perintah gerak kemana ya kita laksanakan,paparnya.
Dikatakannya,saat ini ada lima kapal selam milik Indonesia yang sedang beroperasi dengan kondisi yang baik. Kapal selam sendiri sandar di pelabuhan Sorong, tepatnya di pelabuhan sebelah kanan disamping kapal pengangkut container.(reg)
Sumber : Radar Timika
Senin, 15 April 2013
5 Kehebatan Kopassus hingga diakui dunia
Merdeka (MI) : Kasus penembakan empat tahanan Polda DIY di Lapas Cebongan, Sleman, DIY, yang dilakukan 11 personel Komando Pasukan Khusus (Kopassus), membuat publik kembali mengarahkan perhatiannya kepada pasukan elite milik TNI Angkatan Darat itu.
Dulu jelang Reformasi bergulir, Kopassus juga sempat membuat heboh publik. Saat itu Tim Mawar Kopassus diketahui menculik sejumlah aktivis pro demokrasi.
Meski demikian, prajurit Kopassus tak selalu berbuat negatif. Pasukan elite yang memiliki moto 'Berani, Benar, Berhasil' itu juga memiliki sederet prestasi yang membanggakan.
Tak tanggung-tanggung, prestasi yang dimiliki Kopassus tak hanya di dalam negeri, di dunia internasional Kopassus juga menjadi pasukan elite yang dipandang dan disegani dengan segudang prestasi.
Berikut lima kehebatan Kopassus hingga diakui dunia
1. Kopassus juara menembak jitu
Keahlian menembak sasaran secara tepat menjadi syarat mutlak anggota
pasukan elite seperti Kopassus. Sebab, berbeda dengan pasukan biasa,
pasukan elite menjadi andalan untuk menjalankan tugas-tugas penting yang
tentunya memiliki tingkat kesulitan yang tinggi.
Menembak tepat sasaran menjadi salah satu keahlian yang dimiliki Kopassus ketimbang pasukan elite dari negara lain. Dalam pertemuan Pasukan Elite Asia Pasific yang diselenggarakan pada Desember 2006, personel Kopassus meraih juara penembak jitu (sniper).
Canggihnya, senjata yang digunakan merupakan senjata buatan bangsa sendiri yang diproduksi oleh PT Pindad. Sementara, di posisi kedua diraih oleh pasukan elite Australia.
Menembak tepat sasaran menjadi salah satu keahlian yang dimiliki Kopassus ketimbang pasukan elite dari negara lain. Dalam pertemuan Pasukan Elite Asia Pasific yang diselenggarakan pada Desember 2006, personel Kopassus meraih juara penembak jitu (sniper).
Canggihnya, senjata yang digunakan merupakan senjata buatan bangsa sendiri yang diproduksi oleh PT Pindad. Sementara, di posisi kedua diraih oleh pasukan elite Australia.
2. Kopassus peringkat 2 sukses operasi militer
Dunia internasional tak asing dengan nama Kopassus. Sebab, pasukan elite milik TNI itu dikenal memiliki segudang prestasi.
Pada pertemuan Elite Forces in Tactical, Deployment and Assault di Wina, Austria, Kopassus meraih peringkat dua dalam melakukan operasi militer strategis, seperti; intelijen, pergerakan, penyusupan, penindakan.
Sementara, di urutan pertama adalah pasukan elite Amerika Serikat Delta Force. Saat itu 35 pasukan elite dunia ikut unjuk gigi di ajang tersebut.
Pada pertemuan Elite Forces in Tactical, Deployment and Assault di Wina, Austria, Kopassus meraih peringkat dua dalam melakukan operasi militer strategis, seperti; intelijen, pergerakan, penyusupan, penindakan.
Sementara, di urutan pertama adalah pasukan elite Amerika Serikat Delta Force. Saat itu 35 pasukan elite dunia ikut unjuk gigi di ajang tersebut.
3. Kopassus peringkat 3 pasukan elite dunia
Kopassus merupakan salah satu pasukan elite terbaik di dunia.
Berdasarkan urutan pasukan elite dunia versi Discovery Channel Military
edisi 2008, Kopassus berada di posisi tiga pasukan elite dunia.
Sementara di posisi pertama diduduki United Kingdom's SAS, dan di posisi dua Israel's MOSSAD. Hal itu jelas membanggakan TNI dan Indonesia.
Sebab, Kopassus nyatanya mengalahkan pasukan-pasukan elite dari negara lain, salah satunya Amerika Serikat yang terlalu bergantung pada peralatan yang berbasis teknologi super canggih, akurat dan serba digital.
Sementara di posisi pertama diduduki United Kingdom's SAS, dan di posisi dua Israel's MOSSAD. Hal itu jelas membanggakan TNI dan Indonesia.
Sebab, Kopassus nyatanya mengalahkan pasukan-pasukan elite dari negara lain, salah satunya Amerika Serikat yang terlalu bergantung pada peralatan yang berbasis teknologi super canggih, akurat dan serba digital.
4. Skill Kopassus di atas rata-rata pasukan elite negara lain
Personel Kopassus tidak terlalu bergantung dan mengandalkan teknologi
canggih. Karena itu, tiap personel Kopassus dituntut memiliki kemampuan
bela diri yang cakap. Tak heran jika konon kabarnya satu prajurit
Kopassus setimpal dengan lima prajurit biasa.
Hal itu tentu berbeda dengan pasukan negara maju seperti Amerika Serikat yang terlalu mengandalkan kecanggihan teknologi senjata yang dimilikinya. Narator Discovery Channel Military menyatakan, sebuah pasukan khusus yang hebat adalah pasukan yang mampu mencapai kualitas sempurna dalam hal kemampuan individu.
Kemampuan itu adalah kemampuan bela diri, bertahan hidup (survival), kamuflase, strategi, daya tahan, gerilya, membuat perangkap dan lain-lain.
Hal itu tentu berbeda dengan pasukan negara maju seperti Amerika Serikat yang terlalu mengandalkan kecanggihan teknologi senjata yang dimilikinya. Narator Discovery Channel Military menyatakan, sebuah pasukan khusus yang hebat adalah pasukan yang mampu mencapai kualitas sempurna dalam hal kemampuan individu.
Kemampuan itu adalah kemampuan bela diri, bertahan hidup (survival), kamuflase, strategi, daya tahan, gerilya, membuat perangkap dan lain-lain.
5. Kopassus latih pasukan militer negara lain
Kehebatan yang dimilikinya Kopassus membuatnya disegani militer negara
lain. Bahkan, sejumlah negara di dunia meminta Kopassus untuk melatih
pasukan militernya, seperti negara-negara di Afrika Utara dan Kamboja.
80 Persen pelatih militer di negara-negara Afrika Utara diketahui menggunakan pelatih militer dari Kopassus. Para perwira Kopassus ditugaskan untuk melatih pasukan militer yang dimiliki negara-negara di benua hitam itu.
Sementara itu, Kamboja juga telah lama menggunakan pelatih militer dari Kopassus. Tak tanggung-tanggung, pasukan yang dilatih Kopassus adalah pasukan khusus bernama Batalyon Para-Komando 911. Pasukan itu merupakan bagian dari tentara Kerajaan Kamboja (Royal Cambodian Army).
80 Persen pelatih militer di negara-negara Afrika Utara diketahui menggunakan pelatih militer dari Kopassus. Para perwira Kopassus ditugaskan untuk melatih pasukan militer yang dimiliki negara-negara di benua hitam itu.
Sementara itu, Kamboja juga telah lama menggunakan pelatih militer dari Kopassus. Tak tanggung-tanggung, pasukan yang dilatih Kopassus adalah pasukan khusus bernama Batalyon Para-Komando 911. Pasukan itu merupakan bagian dari tentara Kerajaan Kamboja (Royal Cambodian Army).
Sumber : Merdeka
Langganan:
Postingan (Atom)



